Jakarta – Anggota Badan Kerja Sama Antar-Parlemen (BKSAP) DPR RI, Adde Rosi Khoerunnisa, menegaskan bahwa parlemen yang sensitif gender tidak hanya diukur dari meningkatnya jumlah anggota perempuan, tetapi juga dari sejauh mana perempuan memiliki akses yang setara terhadap posisi kepemimpinan, pengaruh, dan kekuasaan dalam proses pengambilan keputusan.
Pernyataan tersebut disampaikan
Adde Rosi saat menjadi pembicara dalam Sesi 5 IPU Global Conference of Women
Parliamentarians pada Rabu (3/6/2026).
“Diskusi mengenai keterwakilan
perempuan tidak berhenti pada jumlah keanggotaan. Yang tidak kalah penting
adalah bagaimana perempuan juga mendapatkan ruang kepemimpinan yang setara
dalam struktur parlemen,” ujar Adde.
Politisi Partai Golkar itu
menilai pembangunan budaya parlementer yang berpihak pada kesetaraan gender
harus terus diperkuat. Menurutnya, berbagai hambatan yang dihadapi perempuan
dalam dunia politik sering kali tidak tampak secara langsung, tetapi hadir
dalam bentuk stereotip dan asumsi sosial yang membatasi peluang perempuan untuk
memimpin.
Ia mencontohkan masih adanya
pandangan yang mengaitkan kepemimpinan dengan gender tertentu, ekspektasi yang
tidak seimbang terkait tanggung jawab keluarga, hingga jaringan politik
informal yang lebih sulit diakses oleh perempuan.
Karena itu, Adde menekankan
pentingnya kolaborasi lintas partai di antara anggota parlemen perempuan
sebagai upaya memperkuat advokasi, pendampingan, dukungan kelembagaan, serta
membuka lebih banyak peluang bagi lahirnya pemimpin perempuan di masa depan.
“Kolaborasi antaranggota parlemen
perempuan tetap sangat penting, bukan hanya untuk memperjuangkan kebijakan yang
berpihak pada perempuan, tetapi juga untuk membangun ekosistem kepemimpinan
yang lebih inklusif,” jelasnya.
Lebih lanjut, Adde menegaskan
bahwa parlemen memiliki peran strategis dalam membentuk norma sosial melalui
fungsi legislasi, penganggaran, dan pengawasan. Oleh sebab itu, lembaga
legislatif harus aktif memastikan kebijakan publik tidak memperkuat stereotip
gender, melainkan mendorong terciptanya kesetaraan yang lebih luas di
masyarakat.
Menurutnya, pengalaman Indonesia
dalam berbagai kebijakan perlindungan perempuan dan pencegahan kekerasan
menunjukkan bahwa upaya mewujudkan kesetaraan gender membutuhkan pendekatan
lintas sektor, bukan sekadar program yang berdiri sendiri.
“Melindungi dan memperkuat
partisipasi perempuan dalam politik bukan hanya isu perempuan semata. Ini
menyangkut kualitas demokrasi, legitimasi kelembagaan, dan efektivitas tata
kelola pemerintahan,” pungkasnya.
0 Komentar