Jakarta – Komunikasi publik pemerintah kembali menjadi sorotan dalam evaluasi dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran. Riset lembaga kajian LAB45 mengidentifikasi sekitar 26 pejabat yang dinilai pernah melakukan blunder dalam pernyataan publiknya.
Dalam pemaparan pada media
briefing di Jakarta, Kamis (22/10/2026), Analis Maha Data dan Politik Media
LAB45, Salma Nihru, menyebut Presiden Prabowo Subianto berada di posisi pertama
dalam daftar tersebut. Posisi berikutnya ditempati Menteri Energi dan Sumber
Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia dan mantan Kapolri Listyo Sigit Prabowo.
“Dari blunder terbesar kita lihat
di sini bahwa di sini ada sekitar 26 pejabat. Lalu top three yang pertama
adalah Presiden itu sendiri, yang kedua ada Menteri Energi dan Sumber Daya
Mineral, dan yang ketiga adalah mantan Kapolri Listyo Sigit Prabowo,” kata
Salma.
Menurut Salma, pernyataan Prabowo
yang menjadi perhatian riset muncul dalam berbagai kesempatan, mulai dari
pidato kenegaraan, pidato lainnya, hingga wawancara dengan media. Ia menilai
sejumlah pernyataan tersebut memperlihatkan pola komunikasi yang defensif,
konfrontatif, dan dinilai kurang terbuka terhadap kritik.
“Polanya sangat menunjukkan sikap
yang defensif, sikap yang anti-kritik, lalu juga konfrontatif. Tidak berani
atau tidak mau mengakui kesalahannya, lalu juga selalu melimpahkan
permasalahan-permasalahan tersebut itu kepada aktor di luar dirinya itu sendiri,”
ujarnya.
Ia juga menyoroti pernyataan
Prabowo yang mengaitkan sejumlah persoalan dalam negeri dengan aktor asing,
serta penggunaan istilah “londo ireng” terhadap kalangan media. Menurut Salma,
kedua hal tersebut menjadi bagian dari pola komunikasi yang dikritisi dalam
riset LAB45.
Tak hanya pernyataan, riset itu
turut menyoroti sejumlah kebijakan pemerintah, termasuk kerja sama terkait
partisipasi Indonesia dalam Board of Peace serta kesepakatan dengan Amerika
Serikat. Isu-isu tersebut menjadi bagian dari evaluasi terhadap komunikasi dan
artikulasi kebijakan pemerintah selama dua tahun pertama.
Sementara itu, Bahlil Lahadalia
disorot terkait sejumlah isu di sektor energi, seperti pemadaman listrik serta
kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) dan liquefied petroleum gas (LPG). Adapun
Listyo Sigit dikaitkan dengan polemik penekanan terhadap band Sukatani,
penunjukan duta yang menuai kontroversi, hingga keterlibatan Polri dalam
program pangan.
“Untuk Kapolri sendiri ini
terkait dengan penekanan terhadap aktivis pada saat itu band Sukatani, lalu
juga penunjukan duta-duta kontroversial dan program pangan atau keterlibatan
Polri ini ke dalam program pangan,” kata Salma.
Temuan tersebut menempatkan
komunikasi publik sebagai salah satu aspek yang perlu dievaluasi dalam
perjalanan pemerintahan. Bagi publik, persoalannya bukan sekadar pilihan kata
atau pernyataan yang viral, tetapi juga bagaimana pejabat menjelaskan kebijakan,
merespons kritik, dan menyampaikan informasi secara jelas serta bertanggung
jawab.
0 Komentar